![]() |
Ilustrasi: Prajurit Satgas Pamtas
Yonif Linud 431/SSP Kostrad melakukan patroli perbatasan Indonesia-Papua Nugini
di Waris, Keerom, Papua, Kamis (17/3). (Foto: Antara)
|
Jakarta, PacePapushare - Kepolisian Papua bakal melakukan operasi selama setahun
untuk memburu kelompok yang dituding melakukan kekerasan di Kabupaten Lanny
Jaya, Puncak Jaya dan Puncak. Juru Bicara Polda Papua, Patrige Renwarin
mengatakan, operasi ini tengah disusun konsepnya dan akan diserahkan ke Mabes
Polri Jakarta untuk disetujui.
Nantinya
operasi ini juga melibatkan TNI.
"Dulu-dulu sudah ada operasi setingkat Polda dengan melibatkan Kodam. Itu sebulan hingga dua bulan. Tapi dari hasil evaluasi, kalau gunakan model seperti itu hanya menguras banyak tenaga dan dana yang tak terduga. Sementara hasilnya minim," ungkap Juru Bicara Polda Papua, Patrige Renwarin kepada KBR, Senin (21/03).
"Dulu-dulu sudah ada operasi setingkat Polda dengan melibatkan Kodam. Itu sebulan hingga dua bulan. Tapi dari hasil evaluasi, kalau gunakan model seperti itu hanya menguras banyak tenaga dan dana yang tak terduga. Sementara hasilnya minim," ungkap Juru Bicara Polda Papua, Patrige Renwarin kepada KBR, Senin (21/03).
Patrige tidak
mau menyebutkan berapa anggaran operasi ini.
"Belum
tahu, baru disusun konsepnya. Dilaporkan dulu ke Jakarta." Elak Partrige.
Namun ia
menjanjikan konsep operasi itu bakal rampung pekan ini. Pemprov Papua pun,
sudah dua kali diajak bicara dan menyetujui operasi tersebut.
Operasi itu pun, kata dia, tidak hanya penindakan tapi juga pencegahan.
Operasi itu pun, kata dia, tidak hanya penindakan tapi juga pencegahan.
"Misalnya
di kampung-kampung, akan disampaikan operasi terpadu ini. Ada yang dibagi tugas
ke kampung-kampung tentang bahayanya kelompok itu." Ia juga mengklaim
dalam proses pencegahan ke kampung itu tidak akan ada kekerasan ke
masyarakat.
"Enggak,
hanya memberitahu sekarang ada ancaman jangan ikut-ikutan," imbuhnya.
Kepolisian Papua sebelumnya mencatat sejak 2009 hingga 2016, di wilayah Kabupaten Puncak telah terjadi 226 kasus penembakan. Korban meninggal, baik TNI/Polri maupun warga sipil sebanyak 112 orang dengan korban luka sebanyak 229 orang.
Sementara pelakunya, menurut Patrige, ada tiga kelompok yang selama ini melakukan aksi kekerasan di Kabupaten Lanny Jaya, Puncak Jaya dan Puncak.
Kepolisian Papua sebelumnya mencatat sejak 2009 hingga 2016, di wilayah Kabupaten Puncak telah terjadi 226 kasus penembakan. Korban meninggal, baik TNI/Polri maupun warga sipil sebanyak 112 orang dengan korban luka sebanyak 229 orang.
Sementara pelakunya, menurut Patrige, ada tiga kelompok yang selama ini melakukan aksi kekerasan di Kabupaten Lanny Jaya, Puncak Jaya dan Puncak.
"Kita
inventarisir siapa-siapa kelompoknya. Jadi fokus pada kelompok yang melakukan
kejahatan di tiga kabupaten tersebut," jelasnya.
Ia pun menegaskan, kelompok yang mencoba menghalangi proyek pemerintah seperti jalan Trans Papua bakal ditindak.
Ia pun menegaskan, kelompok yang mencoba menghalangi proyek pemerintah seperti jalan Trans Papua bakal ditindak.
"Yang
menghalangi harus ditindak," tegasnya.
Pasalnya kata
dia, atas aksi penembakan di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, meresahkan
masyarakat Papua dan pendatang.
KNPB: Operasi Polda dan TNI Hanya Proyek
Ketua Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo menyebut aksi penembakan yang dilakukan kelompok pimpinan Lekagak di Kabupaten Puncak Jaya sebagai sikap penolakan terhadap pembangunan jalan Trans Papua. Pasalnya kata dia, dengan adanya jalan itu hanya menguntungkan pengusaha besar yang tengah berinvestasi di tanah mereka.
"Mereka memiliki pemikiran bahwa kalau akses pembangunan dibuka sampai ke kampung-kampung justru memudahkan imigrasi atau pendatang dari luar dan pengusaha," ungkap Victor kepada KBR, Senin, 21/3/2016.
Ia pun menuding aksi yang dilakukan kelompok Lekagak kerap dijadikan alasan bagi Kepolisian untuk menambah anggaran pengamaman.
KNPB: Operasi Polda dan TNI Hanya Proyek
Ketua Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo menyebut aksi penembakan yang dilakukan kelompok pimpinan Lekagak di Kabupaten Puncak Jaya sebagai sikap penolakan terhadap pembangunan jalan Trans Papua. Pasalnya kata dia, dengan adanya jalan itu hanya menguntungkan pengusaha besar yang tengah berinvestasi di tanah mereka.
"Mereka memiliki pemikiran bahwa kalau akses pembangunan dibuka sampai ke kampung-kampung justru memudahkan imigrasi atau pendatang dari luar dan pengusaha," ungkap Victor kepada KBR, Senin, 21/3/2016.
Ia pun menuding aksi yang dilakukan kelompok Lekagak kerap dijadikan alasan bagi Kepolisian untuk menambah anggaran pengamaman.
"Sengaja
dipelihara oleh tentara. Di satu sisi mereka melakukan perlawanan, tapi
perlawanan itu dimanfaatkan atau bargain Polri TNI untuk proyek keamanan,"
katanya.
Sementara terkait operasi yang akan digencarkan Polda Papua dan TNI, menurut Victor, bukanlah hal yang dikhawatirkan. Pasalnya kata dia, operasi di Papua terjadi saban hari.
Sementara terkait operasi yang akan digencarkan Polda Papua dan TNI, menurut Victor, bukanlah hal yang dikhawatirkan. Pasalnya kata dia, operasi di Papua terjadi saban hari.
"Jadi tak
perlulah bikin operasi baru hanya untuk mencari alokasi dana. Toh operasi
terjadi tiap hari. Justru, operasi itu ditunggu-tunggu kelompok Lekagak dan
lainnya untuk melakukan perlawanan terbuka. Dengan begitu tak lagi dicap aksi
kriminal."
Terkait pembangunan jalan Trans Papua, menurut Victor, masyarakat Papua tidak dipersiapkan dengan baik.
Terkait pembangunan jalan Trans Papua, menurut Victor, masyarakat Papua tidak dipersiapkan dengan baik.
"Mereka
belum siap dengan alat produksi modern. Tak punya mesin industri. Maka siapa
yang akan memakai akses pembangunan itu?" ungkapnya. Sedangkan, keinginan
masyarakat Papua adalah pembangunan manusia bukan pembangunan fisik.
"Yang diinginkan orang Papua itu pembangunan manusia dan ini tidak dipersiapkan. Perspektif pemerintah Indonesia bahwa yang modern itu ketika bangunan ada," pungkas Victor.
"Yang diinginkan orang Papua itu pembangunan manusia dan ini tidak dipersiapkan. Perspektif pemerintah Indonesia bahwa yang modern itu ketika bangunan ada," pungkas Victor.
Dampaknya,
kepercayaan masyarakat Papua kepada pemerintah pusat semakin minim. Itulah
dasar kata dia, mengapa masyarakat Papua ingin mengatur pemerintahannya
sendiri.
Editor: Rony
Sitanggang
Sumber :
portalkbr.com

Channel News Papua. Under the auspices of PT. Papua Media. The network paper blog news from the land of Papua.
Tidak ada komentar
Posting Komentar