![]() |
| Sumber: facta-news.com |
Sebenarnya ini bukan hal yang baru, bayar membayar para pejuang maupun ke Negara-negara lain sudah biasa dilakukan NKRI agar isu Papua tidak didukung atau tidak meluas, lalu Indonesia mengklaim Papua urusan dalam negeri, urusan rumah tangga, namun lucunya masalah Papua tidak pernah tuntas-tuntas hingga kini dan pasti akan seterusnya sama. Sepertinya Indonesia senang orang Papua terus menderita ditanah sendiri.
Hanya saja disini ada modus baru di media sosial, dengan mudahnya berpikir untuk merekrut anggota baru, menjadi anggota Barisan Merah Putih (BMP) yang adalah Indonesia mengalaim orang Indonesia juga, lalu buat apa bayar membayar orang Indonesia untuk menjadi Indonesia lagi.
![]() |
| Inbox fb, tawaran untuk menjadi anggota Barisan Merah Putih (BMP) |
Sepertiya teman saya tidak kaget atas tawaran satu Miliar ini, lalu teman saya membalasanya "Uang 1M. Uang sebesar itu kalau saya terima setelah itu saya buat apa. Dan asal kamu tahu ya orangtuaku masih beruang dihutang sana lagi tahan dingin. kami Papua bilang soal Merdeka bukan soal makan dan minum juga bukan soal keluarga. Ini demi tanah dan demi banyak rakyat orang Papua. Saya tetap berjuang untuk Papua merdeka itu harga mati buat saya. #FWP" Begitu dibalasnya.
Jadi kamu memilih mempertahankan demi Papua yang bebas atau keluar demi uang yang bisa menghancurkan hidupmu hanya sesaat saja. Sepertinya berbahaya dan harga yang harus dibayar semakin mahal.


Channel News Papua. Under the auspices of PT. Papua Media. The network paper blog news from the land of Papua.
Nggak usah jadi anggota BMP, terkesan politik pecah belah ketimbang solusi..., seharusnya setiap pribadi orang asli Papua lebih kaya daripada orang-orang Jakarta. PT Freeport Indonesia telah melakukan hal itu dengan memberikan fasilitas dan kesempatan kelas wahid kesejahteraan sosial, politik, keagamaan, kesehatan dan pendidikan sebagai bagian dari hak ulayat tanah leluhur mereka. Tidak membela, sekedar mencari model ideal dengan memberdayakan kota Timika dan kabupaten Mimika. Tentu masih ditemukan banyak kekurangan. Nggak penting dengan sikon politk Jakarta, yang penting komitmen, prefisionalisme, pelayanan dan pengabdian, be wise and honest please!
BalasHapus