![]() |
| Aparat kepolisian mengamankan lokasi penemuan mayat di depan PLTD Waena, Kota Jayapura (foto istimewa) |
Kasus pembunuhan yang terjadi terhadap Theresia Lampyiopar di depan PLN Waena Jumat Pagi (19/5) pukul 05.40 WIT. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh suami ke tiganya sendiri. Baca: Kronologis pembunuhan terhadap Theresia di PLTD Waena
Akibat adunan donat yang dimainkan BIN, TNI, dan POLRI ini orang Papua menjadi korban lagi, orang Papua (dari gunung) dituduh sebagai pelaku. Polisi kejar pelaku dan menembak tiga orang di Somel Waena (setelahnya kemudian Polisi klarifikasi mereka terkait kasus lain, #aneh).
Keluarga korban (orang Maluku) palang jalan dan cari orang gunung. Dalam pemalangan jalan tersebut Polisi biarkan amuk warga Maluku, akibatnya Pius Kulua dibunuh dan adiknya kritis. Sebelum mengungkap siapa pelaku pembunuh Theresia ini (apalagi Pius yang konon diduga ditikam Polisi, #kurang Waras).
Dan dalam Kasus lain, pembunuhan Dosen UNCEN di Buper pada kamis (11/05) dini hari sekitar pukul 00.30 WIT. pembunuhan tersebut Polisi main tuduh saja sembarangan, jika pelaku pembunuh Dosen Uncen di Buper adalah anggota KNPB.
Kemudian kasus pembakaran Alkitab pada hari Kamis (25/5). Melalui media propagandanya (Papuanews.id), mereka tuduh KNPB sebagai dalang protes pembakaran Alkitab di Padang Bulan. Nyatanya pelaku pembakaran Alkitab adalah oknum TNI (Baca: Oknum TNI Diduga Bakar Alkitab di Papua)
Miris melihat rangkaian peristiwa-peristiwa ini, rangkaian kasus-kasus ini tidak ada bukti yang kuat dilakukan oleh orang Papua namun diadudombahkan terhadap orang Papua.
Indonesia telah berhasil bangun stigma "orang gunung" sebagai penjahat, dan KNPB sebagai dalang. Apapun kejahatannya, mind set publik tertuju pada "orang gunung", ciri-ciri gimbal dan brewok sebagai pelaku. Sementara, mereka membangun mind set "orang pantai" sebagai bagian dari Indonesia, dan orang pendatang adalah warga NKRI yang memiliki hak superioritas. Terminologi gunung-pante dan stigma seperti itu lasim digunakan kolonial sebagai taktik operasi pecah belah, pembunuhan dan penghancuran basis perjuangan rakyat.
Saya menulis ini kembali, agar orang Papua mengerti kiat-kiat kolonialisme dalam bentuk yang nyata. Mereka atur konflik dengan sistematis dan terstruktur.
Bayangkan, berbagai kasus kejahatan Polisi tak tersentu hukum, malah KNPB dikriminalisasi terus-menerus. Polisi tembak rakyat dibiarkan, tapi KNPB hanya ibadah digrebek dan ditangkap.
Benar kata pimpinan Gereja Papua bahwa tidak ada masa depan orang Papua dalam kekuasaan Republik Indonesia. Benar kata KOMNAS HAM: "Pelanggaran HAM harus dibawa ke Internasional, karena Indonesia (Komnas HAM) sudah tidak bisa atasi pelanggaran HAM Papua. Benar kata pejuang kemerdekaan Papua: "lepas dari kolonialisme Indonesia adalah satu-satunya jalan selamat bagi bangsa Papua".
Catatan: Vicktor Yeimo

Channel News Papua. Under the auspices of PT. Papua Media. The network paper blog news from the land of Papua.
Itulah hebatnya sistem keamanan di Indonesia
BalasHapusYang mana masyarakat dijadikan sebagai lawan terutama orang papua
Kalau di negara lain masyarakat dilindungi
Lucu
Hqhahahahahahahah
Hal.
BalasHapusIni akan terus terjadi, satu-satunya cara agar hal ini tidak terjadi adalah kita orang papua harus bersatu untuk melihat masa depan bangsa papua, kita jangan biarkan.
Kasihan anak cucu kita.
Mereka seharusnya lahir ke dunia untuk menikmati kehidupan di tanahnya sendiri tanpa harus diintimidasi oleh bangsa Lain di negeri sendiri
Indonesia adalah bangsa kanibal
BalasHapusIndonesia merampas Hak2 orang Papua
BalasHapus